Thursday, November 4, 2010

Proses Pemasaran dan Perilaku Konsumen

atas Kaos Oblong

Pengertian dan Sejarah kaos oblong

Kaos oblong berasal dari arti kata “t-shirt, sejarah perjalanan kaos itu sendiri. Dalam Kamus Indonesia-Inggris Hassan Shadily (1997kaos oblong sama dengan kaos dalam pria.
Sejarah kaos oblong


pada awal mulany, kaos oblong sering juga disebut kaos dalam pria yang warna dan bentuknya pun belum ber variasi

kaos oblong di populerkan oleh Marlon Brando pada tahun 1947 ketika ia memerankan tokoh Stanley Kowalsky dalam pentas teater dengan lakon “A Street Named Desire” karya Tenesse William di Broadway, AS. T-shirt berwarna abu-abu yang dikenakannya begitu pas dan lekat di tubuh Brando, serta sesuai dengan karakter tokoh yang diperankannya. Pada waktu itu penontong langsung berdecak kagum dan terpaku. Namun ada beberapa pula penonton yang tidak setuju atas di pakainya kaos oblong tersebut.

masalah yang terjadi kini kaos oblong dianggap busana yang dianggap tidak sopan namun untuk beberapa ank muda kaos oblong bukan hanya tren melainkan bagian dari keseharian mereka.

Karena kaos oblong sangat diminati dan di butuhkan bnyk g memilih usaa ka oblong dengnmenmbahn wrda aopih polos atau kaos pls ddi ablon seaiamba adg iminati atua sesuai keinginan konsumen tak hanya itu kaos pun bisa di tambah dengan ornament-ornamen lainnya.

PROSES PEMASARAN

Proses pemasaran kaos oblong cenderung mudah di tambah lagi pada masa kini internet sudah sangan maju. Usaha untuk memasarkan kaos oblong, yaitu sebagai berikut

1. Menyebarkan famplet yang beri promosi

2. Membuka shop online di internet

3. Memberitahu dari mulut ke mulut

4. Membuka distro atau otlate

5. Mengiklankan di media massa

Dengan demikian konsumen akan tau dan msetidaknya datang untuk melihat kaos oblong produksi ini

Perilaku konsumen

Kwalitas dan trand sangat mempengaruhi naik turunnya konsumsi , karena masih banyak peasaing yang sanagt mengikuti trand, di tambah lagi denagan adanya distro atau outlet yang menjual dkaos apik , unik, menarik, dan di produksi secara terbatas, berdasarkan analisis perilaku konsumen dalam hal ini adalah perbedaan keputusan pembelian, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan perusahaan dalam menentukan kebijaksanaan atas dasar analisis perbedaan keputusan pembelian. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan diskriminan.

No comments:

Post a Comment